Ketum Ma'arif NU: Matematika sebagai Pembekalan Siswa Berfikir Kritis
Share
Nasional

Ketum Ma'arif NU: Matematika sebagai Pembekalan Siswa Berfikir Kritis

BeritaKita.ID-Ketua Lembaga Pendidikan Ma'arif Nadhlatul Ulama H Arifin Junaidi menyebut pelajaran Matematika mengajarkan siswa berpikir logis. Karenanya, para guru Matematika harus terus meningkatkan model pembelajaran yang mudah dan cepat dipahami agar pelajaran ini semakin diminati.

 

"Matematika membekali mereka kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis serta kemampuan kerja sama karena ada nalar yang kritis," kata H Arifin Junaidi saat membuka kegiatan pelatihan Olimpiade Matematika yang digelar secara virtual, Senin (11/1).

 

Di beberapa negara, lanjutnya, Matematika menjadi pelajaran yang terus mendapatkan perhatian khusus, sebab dinilai dapat memberikan peluang yang besar untuk masyarakat. Jika seseorang menguasai pelajaran Matematika selain akan mendapatkan peluang yang baik di dunia kerja dia pun dapat berpikir dengan tepat soal sesuatu hal.

"Matematika menunjang keputusan yang tepat," tutur dia.

Presiden Direktur Lembaga Pelatihan Klinik Mipa yang digandeng LP Ma'arif NU untuk menjadi pelatih guru-guru MIPA di lingkungan NU, Ridwan Hasan Saputra menegaskan, harus ada kesadaran dari para tenaga pendidik mengenai pentingnya pelajaran yang mereka ajarkan.

Kata dia, sekolah berbasis Islam seperti lembaga pendidikan di bawah naungan LP Ma'arif NU perlu memperhatikan masalah ini. Tujuannya, supaya peserta didik semakin meningkat kemauan dari dirinya untuk mempelajari MIPA tersebut.

"Kalau belajar olimpiade ya berpikir masa depan,” tegas Ridwan Hasan.

Seorang Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten Ali Muhtarom menilai, pelajaran Matematika sebagai induk dari segala ilmu. Tanpa pelajaran Matematika, mungkin tidak akan bisa belajar Ekonomi, Akuntansi, Manajemen, atau malahan pelajaran-pelajaran IPA seperti biologi kimia atau fisika. Menurut dia, dalam bidang yang bertolak belakang pun kita tetap butuh matematika baik di bidang IPA maupun IPS. "Selain itu Matematika mampu membentuk pola pikir. Kita perlu belajar trigonometri, limit, integral, turunan, atau materi-materi lain yang tidak bersinggungan secara langsung dengan kehidupan nyata. Ternyata, meskipun hal tersebut tidak bisa diaplikasikan dalam kehidupan secara langsung, pelajaran matematika mampu membentuk pola pikir manusia," bebernya. Di sisi yang lain, dengan belajar soal-soal rumit, masyarakat akan menjadi pribadi yang lebih kritis dan disiplin. Ketekunan dia dalam upaya menyelesaikan soal-soal Matematika akan membuat individu yang solutif.

Sumber: NU Online