'Shalawat Wasiat' Mbah Kiyai Umar Solo
Share
Kalam

'Shalawat Wasiat' Mbah Kiyai Umar Solo

KH Ahmad Umar bin Abdul Mannan (1916-1980) adalah pengasuh Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Solo, Jawa Tengah. Beliau memiliki beberapa karya tulis, di antaranya adalah sebuah syiir berupa wasiat-wasiat dalam bahasa Jawa yang ditulis sebelum beliau wafat pada tahun 1980. Karya ini dengan judul “Shalawat Wasiat” pada saat sekarang telah dikenal luas, khususnya di Jawa Tengah, yang tediri dari tujuh bait. 

Ada dua alasan mengapa karya ini disebut “Shalawat Wasiat”. Pertama, karena bait pembuka berisi shalawat kepada Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu aialihi wa sallam sebagai berikut:

اَللَّــــهُمَّ صَـــلِّ وَ سَـــلِّمْ عَلىَ* سَيِّدِنَا وَ مَوْلَانَا مُحَمَّدٍ عَدَدَ مَا فِي عِلْمِ اللهِ صَلاَةً * دَائِمَةً بِدَوَامٍ مُلْكِ اللهِ

 Bait-bait berikutnya berisi pesan-pesan Mbah Kiai Umar agar kita bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu yang bermanfaat, memperkuat kerukunan dan menjauhi perpecahan, dan sebagainya. 

Kedua, meskipun syiir tersebut ditulis Mbah Umar ketika beliau masih sugeng, namun beliau menghendaki agar karya itu diperdengarkan kepada masyarakat khususnya santri Pondok Pesantren Al-Muayyad setelah beliau wafat.  

Ketujuh bait tersebut akan penulis kutipkan dan beri syarah atau ulasan satu demi satu. Teks versi asli dalam bahasa Jawa dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia penulis kutipkan dari buku Kumpulan Syair, Shalawat & Pujian-pujian Mangkuyudanan (Jakarta Pusat: Pustaka Mediatama, 2003), Cet. 8, hal. 20, yang disunting Ahmad Iftah Sidik. Selengkapnya bait-bait “Shalawat Wasiat” dan syarahnya sebagai berikut:

Bait Pertama

Wasiate Kiai Umar maring kita.

Mumpung sela ana dunya dha mempenga.  

Mempeng ngaji ilmu nafi’ sangu mati.

Aja isin aja rikuh kudu ngaji 

(Kiai Umar berwasiat kepada kita Mumpung sempat rajinlah kau di dunia Cari ilmu manfaat ‘tuk bekal mati Jangan malu ‘tuk segera memulai ngaji)

Bait pertama ini mengandung maksud bahwa Mbah Umar mengingatkan kita semua untuk dapat memanfaatkan waktu sebaik mungkin dengan bersungguh-sungguh dan rajin mencari ilmu yang bermanfaat mumpung ada kesempatan berupa kelonggaran-kelonggaran seperti: badan sehat, usia masih muda, belum direpotkan anak maupun istri atau suami, masih ada yang sanggup membiayai, belum direpotkan kegiatan mencari nafkah karena sudah berkeluarga, atau kegiatan kemasyarakatan karena telah menjadi orang tua, dan sebagainya.

Bagaimanapun llmu yang bermanfaat akan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir meski sang pemilik ilmu (ahlul ilmi) sudah meninggal dunia.

Inilah yang dimaksud Mbah Kiai Umar dengan sangu mati (bekal mati) sebagaimana disebutkan dalam baris ketiga di atas. Wasiat Mbah Umar dalam bait ini didasarkan pada hadits Rasulullah shallallahu aialihi wa sallam yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma sebagai berikut:

 اغتنم خمسا قبل خمس: شبابك قبل هرمك وصحتك قبل سقمك وغناك قبل فقرك وفراغك قبل شغلك وحياتك قبل موتك.  

Artinya: “Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: (1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, (2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, (3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, (4) Masa luangmu sebelum masa sibukmu, dan (5) Hidupmu sebelum datang kematianmu” (HR al-Hakim).

Hadits lain yang juga menjadi rujukan wasiat ini adalah sebagaimana yang diriwayatkan dari Abi Hurairah radliyallahu ‘anhu, sebagai berikut:

إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية، أو علم ينتفع به، أو ولد صالح يدعو له

Artinya: “Jika seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari 3 (perkara): sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang berdoa baginya.” (HR. Muslim).

Bait pertama di atas ditutup dengan kalimat larangan atau peringatan agar siapapun tidak merasa malu untuk belajar. Rasa malu atau rikuh dengan alasan apapun sejatinya tidak pada tempatnya karena malu yang benar dan pada tempatnya adalah malu berbuat maksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan perbuatan buruk lainnya.

Kalimat ini juga mengandung maksud bahwa seseorang tidak boleh membuat malu apalagi mempermalukan dengan mengolok-olok mereka yang sedang belajar mengaji Al-Qur’an hanya karena makhraj-nya masih kurang bagus, atau usianya sudah cukup tua tetapi capaian ngajinya baru sampai pada surah Al-Fatihah atau At-Tahiyyat, misalnya.  

Bait Kedua  Dha ngajiha marang sedulur kang ngerti  Aja isin najan gurune mung bayi Yen wus hasil entuk ilmu lakonono Najan sithik nggonmu amal dilanggengno (Mengajilah pada orang-orang yang mengerti Jangan malu walau gurunya bayi/anak kecil Jika telah dapat ilmu amalkanlah Walaupun sedikit asal istiqamah) Bait kedua ini mengingatkan kita untuk belajar kepada seorang guru yang memang mumpuni atau benar-benar memiliki kompetensi di bidangnya sekalipun orang itu secara usia masih sangat muda.

Seseorang tidak perlu merasa malu ketika kenyataannya ia diajar oleh seorang guru yang lebih muda. Mbah Kia Umar mengumpamakannya sebagai seorang bayi. Mbah Ngismatun Sadullah (Mbah Ngis), sering memberikan komentar kepada penulis ketika mendengar “najan gurune mung bayi” diperdengarkan di masjid Mangkuyudan setiap malam Selasa.  

Menurut pengamatan dan penafsiran Mbah Ngis yang tak lain adalah adik Mbah Kiai Umar, salah seorang yang mungkin dimaksud Mbah Kiai Umar dalam hal ini adalah Nyai Hj. Memunah Baidlowi Syamsuri yang sekarang menjadi pengasuh Pondok Pesantren Sirojut Tholibin Brabo Purwodadi.

Saat itu, yakni ketika Shalawat Wasiat ini baru mulai diperkenalkan kepada masyarakat khususnya santri-santri Al-Muayyad pascawafatnya Mbah Kiai Umar, usia Nyai Hj. Maemuah Baidlowi masih sangat muda. Beliau belum menikah tetapi kompetensinya dalam mengajar Al-Qur’an cukup mumpuni. Maka tidak mengherankan ketika Nyai Hj. Maemudah Baidlowi kemudian diboyong dari Mangkuyudan ke Brabo pada tahun 1987, pesantren yang diasuh Kiai Baidlowi (almarhum) ini dapat berkembang dengan baik hingga seperti sekarang ini.

Pada bait kedua dalam baris ketiga ini, Mbah Kiai Umar me-wanti-wanti agar setelah ilmu berhasil kita peroleh maka segeralah diamalkan secara istiqamah meski amal itu sendiri tak seberapa kadarnya. Prinsip ini berdasar pada hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan dari Aisyah radliyallahu ‘anha sebagai bertikut:

أحب الأعمال إلى الله أدومها و إن قل

Artinya:“Amal-amal yang lebih disukai Allah adalah yang terus-menerus (dawwam) dikerjakan walaupun sedikit.” (HR Ahmad dan Muslim).  

Baca juga: Syiir ‘Kanjeng Nabi’ Karya Mbah Kiai Umar Solo Dari sini kita tahu bahwa amal sedikit tetapi istiqamah itu lebih utama dari pada amal banyak tetapi tidak istiqamah alias tidak langgeng.

Mbah Kiai Umar memang sering menekankan perlunya istiqamah dalam beramal ibadah sehingga beliau dikenal sebagai seorang kiai istiqamah hingga akhir hayat. Dalam Ilmu Tasawuf dijelaskan istiqamah merupakan karamah hakiki yang nilainya lebih utama dari pada 1.000 karamah tak hakiki.

Istiqamah inilah yang sebenarnya merupakan karamah Mbah Kai Umar sehingga beliau diyakini banyak orang sebagai seorang waliyullah. Hal-hal yang diamalkan Mbah Kai Umar secara istiqamah antara lain adalah ziarah ke makam kedua orang tua di Pemakaman Saripan Pajang Makamhaji Kartosuro setiap Kamis sore ba’da Ashar atau Jumat pagi.

Selain itu adalah shalat tahajud yang dilanjutkan dengan dzikir dan nderes Qur’an setiap tengah malam hingga menjelang Shubuh, shalat dhuha, puasa sunnah, dan masih banyak lagi.

Dalam hal ibadah sosial, Mbah Kiai Umar juga istiqamah mengamalkannya, seperti hormat pada orang tua dan guru, ramah, belas kasih dan rendah hati kepada siapa saja tanpa memandang status sosial maupun nasab, bersedekah kepada wong-wong cilik seperti tukang becak, tukang pos, dan orang-orang lemah lainnya. (bersambung...).